Jumat, 23 November 2012

Ma'Badong Tarian Duka Masyarakat Toraja


Badong adalah sebuah tarian khas toraja diadakan di upacara (pesta) kematian di  Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian ini dilakukan secara berkelompok oleh pria dan wanita setengah baya atau tua dengan cara membentuk lingkaran besar dan bergerak.


Badong dilakukan di pelataran yang luas setiap kali pelaksanaan upacara kematian. Pa’badong memakai baju seragam, biasanya hitam-hitam dan memakai sarung hitam atau memakai pakaian adat toraja. Jumlah penari dapat mencapai puluhan hingga ratusan orang, sehingga pria memakai seragam yang berbeda dengan para penari wanita. Terkadang para pria dan wanita juga mengenakan pakaian adat Toraja. Tetapi, karena badong juga terbuka untuk orang yang ingin ikut menari, jadi tamu upacara kematian yang ingin ikut ma’badong diperbolehkan berpakaian bebas.
Suara yang mengiringi tarian badong adalah nyanyian para pa’badong, tanpa iringan suara musik. Nyanyian yang dinyanyikan adalah lagu dalam bahasa Toraja, yang berupa syair (Kadong Badong) cerita riwayat hidup dan perjalanan kehidupan orang yang meninggal dunia, mulai dari lahir hingga meninggal. Selain syair tentang riwayat hidup, badong pada saat upacara kematian juga berisi doa, agar arwah orang yang meninggal bisa diterima di alam baka.
Pada umumnya, ma’badong berlangsung selama tiga hari tiga malam, karena pada umumya upacara kematian di Toraja berlangsung selama itu, tetapi tidak dilakukan sepanjang hari. Pada upacara kematian yang berlangsung selama lima hari dan tujuh hari, ma’badong dilangsungkan dengan waktu yang berbeda pula, sesuai dengan keinginan pa’badong dan persetujuan keluarga.

Pelaksaan upacara kematian di Tana Toraja hanya dilakukan oleh keturunan raja dan bangsawan, serta keluarga dengan status sosial yang tinggi, yaitu mereka yang memiliki banyak harta kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan badong hanya dilakukan oleh golongan masyarakat yang kaya, walaupun dalam kenyataannya mereka sebagai penyelenggara, penari badong sendiri adalah keluarga dan masyarakat umum yang dengan sukarela ingin mendoakan orang yang meninggal pada saat itu.

Penari badong biasanya adalah masyarakat asli Tana Toraja yang sudah lama bermukim di Toraja dan sudah mengenal kuat kebudayaan Tana Toraja, hingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam menyanyikan syair ini. Selain itu, karena upacara kematian masih sering diadakan, masyarakat Tana Toraja tidak canggung dan dapat ma’badong dengan baik dan  lancar.

Selasa, 30 Oktober 2012

Ma' Nene' Ritual Penghormatan Leluhur


Toraja memang memiliki ritual-ritual budaya yang unik,,selain budaya Rambu Solo’ atau upacara kematian, budaya Toraja masih menyimpan beragam ritual lain yang tidak kala uniknya. Salah satu diantarany adalah Ma’ Nene’  yaitu ritual mengganti pakaian jenasah yang sudah dikuburkan.
Dalam ritual Ma’ Nene’ , peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar. Ritual ini juga menjadi wujud kecintaan masyarakat Toraja kepada leluhur mereka.




Asal Muasal Ritual Ma’ Nene’ di Baruppu
Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun dalam masyrakat Toraja , pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar, tinggal tulang-belulang.
Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.
 Semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.
Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.

Minggu, 14 Oktober 2012


LONDA

Londa merupakan salah satu objek wisata andalan Torraja,, Terletak kurang lebih 6 Km dari Kota Rantepao, yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Toraja Utara.  Tempat ini tidak pernah sepi pengunjung baik itu wisatawan dalam negri maupun para pelancong dari Negara lain.

Londa adalah kompleks pemakaman dari berbagai status social masyarakat toraja.  Kompleks pemakaman ini terletak di bebatuan kapur yang curam dimana di terdapat deretan “tau-tau’’ (miniature jenazah) di dinding bukit,sementara didalam dinding goa terdapat tulang dan tengkorak serta ”erong-erong”.


Menurut adat Tana Toraja, setiap jenasah di Goa Londa yang dimakamkan melalui upacara adat tertinggi akan dibuatkan replikanya dalam bentuk patung yang dinamakan tau-tau lengkap dengan pakaian adat Toraja sedangkan mayatnya disemayamkan dalam peti mati khas yang disebut erong. Seringkali juga pada tau-tau disertakan benda kesayangan dari sang mendiang, seperti makanan, rokok dan sebagainya. Posisi erong pun dibedakan menurut status sosialnya. Semakin tinggi letak erong pada dinding gua semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat Tana Toraja.

Goa Londa merupakan salah satu tempat sakral di antara berbagai objek wisata lainnya di Tana Toraja. Oleh karena itu, sebelum memasukinya para pengunjung dianjurkan untuk membawa sesajian sebagai permohonan izin, seperti pinang, sirih, serta bunga. Selain itu, anda tidak diperkenankan untuk mengambil ataupun mengubah posisi mayat, tulang, tengkorak, erong dan tau-tau. 

Kamis, 27 September 2012

Toraja Surga Para Wisatawan



Toraja yang kini terdiri atas dua wilayah kabupaten,yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Berjarak sekitar  ±360Km dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Toraja bisa dijangkau lewat jalur darat sekitar 7-8 Jam.
Daerah ini menawarkan sejuta produk wisata yang handal di indonesia,, Tak heran jika beberapa orang yang sudah mendatangi Toraja berkomentar bahwa Toraja adalah Surga para wisatawan.
Mata akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu eksotik diatas dataran tinggi dan gunung-gunung batu yang berdirih kokoh. Andapun akan dibuai oleh oleh udara sejuk dan hamparan sawah yang begitu banyak.
Andapun akan disuguhi dengan makam-makam yang berjejer tebing-tebing curam seperti Londa, dan Lemo.
Selain wisata alam,,daerah ini juga menawarkan wisata budaya yang tak kala menariknya, seperti Ritual Upacara Pemakaman atau dikenal dengan istilah “Rambu Solo”. Prosesi yang menawarkan beberapa pertunjukan budaya seperti Ma’ Badong, Ma’ Tinggoro Tedong, Ma’ Pasonglo’, dan masih banyak lagi.
Kalau anda penasaran dengan semua itu,silakan berkunjung dan yakin anda akan takjub dengan itu.

  


Selasa, 25 September 2012

Nama Ukiran  : Pa' Barre Allo (Melambangkan Sang Pencipta)

Makna             :Berasala dari Bahasa Toraja,, Barre : Bulatan /  Lingkaran dan Allo : Matahari. Pa' Barre Allo berarti ukiran yang menyerupai matahari yang bersinar terang, memberi kehidupan kepada semua mahluk penghuni jagad raya. Ukiran ini terletak pada bagian rumah adat yang berbentuk segitiga yang mencuat condong keatas (dalam bahasa toraja di sebut Para longa). Ukiran ini diletakkan diatas ukiran toraja yang di sebut ukiran Pa' Manuk Londong.